Dokter RSU Panglima Sebaya Tolak Tes Darah | |
|
PASERKAB, 20-05-2009 00:00:00 WITA Janji Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Panglima Sebaya Tanah Grogot dr I Dewa Made Sudarsana untuk memberikan pelayanan maksimal kepada pasien yang memerikasakan diri dengan gejala demam panas dengan langsung dilakukan tes darah, ternyata tidak didukung oleh jajarannya, khusususnya dokter di RSU milik pemerintah daerah ini. Ini diketahui setelah M Hanafi (9) yang diduga terdeteksi DBD tidak dilakukan tes darah setelah dirujuk ke Rumah Sakit Restu Ibu Balikpapan, kasus serupa kembali menimpa salah seorang warga Jalan A Wahab Syahrani Gang Rindani, Tanah Grogot yakni Rizki Ahmad Syaputra (5), anak dari pasangan Joko Triono dan Faridah, Jumat (15/5) menjadi korban DBD. Kali ini kejadiannya amat cepat dan mengenaskan, dimana diawali badan panas beberapa hari. Siswa dari TK Pembinaan Tanah Grogot yang akrab disapa Putra ini, sebelum meninggal dunia sempat dibawa orang tuannya ke Klinik Azka Medika Tanah Grogot untuk dilakukan cek darah. Dokter UGD Klinik Azka Medika saat itu menurut Joko, ayah Putra langsung melakukan cek darah, dan hasilnnya menurut dokter jaga di klinik milik mantan Bupati Paser Drs H Yusriansyah Syarkawi, Putra poitif demam berdarah. "Setelah mengetahui Putra positif DBD, rencananya Putra akan di rawat di RSU Panglima Sebaya," kata Joko. Namun menurut pegawai kantor Arsip Kabupaten Paser ini, saat di UGD Panglima Sebaya, dokter jaga dengan inisial dr RF yang memeriksa, hanya didapat penjelasan jika Putra hanya panas biasa dan radang serta pilek. Ketika diminta untuk cek darah, dokter jaga tersebut menolak. Bahkan tidak saja ibu putra, kakak putra Yanti, juga meminta dokter tersebut agar adiknya dilakukan test darah, namun sang dokter tetap tak meenggubris. "Karena dokter tersebut tetap menolak dilakukan tes darah kepada Putra dengan alasan hanya panas biasa, radang dan pilek, kamipun akhirnya pulang kerumah dengan membawa resep obat," kata Joko dengan nada nampak sedih melalui telpon selulernya menceritakan apa yang dialaminnya sehingga anak keduanya tersebut tak tertolong. Penasaran karena dokter bersangkutan ngotot tak mau memeriksa darah anaknnya, Joko dan istri serta kakat putra sekitar pukul 16.00 Wita sore kembali menuju UGD Panglima Sebaya dengam membawa hasil test darah dari Laboratotium Azka Medika, kembali harus menerima kekecewaan. Pasalnya sang dokter hanya melingkari Leycocy/WBC 3.200, tromboccyt 140.000 dan hematokrit (PVC) 40 dan sembari apa yang diharapakn keluarga agar Putra di cek darah juga tak ia penuhi. Bahkan, meskipun ayah dan ibu Putra mengiba minta agar Putra dilakukan tes darah, dokter tersebut tetap mengindahkan . Bahkan ibu Putra saat itu sempat mengancam sang dokter."Baik dok, kalau anak saya kenapa-kenapa kena, dokter ulun tiwas," yang dalam bahasa Banjar, jika anak saya terjadi apa, maka dokter saya persalahkan," tandas salah seorang keluarga Putra. Bahkan tidak itu saya, ibu Putra, Paridah juga meminta nomor telpon seluler dokter RF, tetapi tidak ditanggapi. Naluri ibu memang ada benarnya, sepulang dari rumah sakit, menurut Joko, anaknya nampak gelisah hingga menjelang tengah malam bibirnya sudah nampak membiru. "Dengan kondisi seperti itu, sekitar pukul 12 malam langsung kami bawa ke RSU Panglima Sebaya, dan dokter yang menangani kebetulan dokter yang bertugas di Azka Medika saat Putra di periksa, sempat keheranan," ungkap Joko, dan anaknnya tak tertolong lagi karena petugas kesulitan untuk memasukkan cairan infuse."Kami pasrah Putra diambil Yang Maha Kuasa, namun kenapa harus terjadinya seperti ini," kata Joko tak kuasa menahan tangis saat mengakhiri penjelasannya. Sementara, Direktur RSU Panglima Sebaya Tanah Grogot saat akan dikonfirmasi menyagkut hal ini Minggu kemarin tak dapat ditemui, bahkan saat dihubungi melalui telpon selulernya tak aktif.(KaltimPost,18052009) Dikirim oleh : (administrator) |
BERITA LAINNYA :
| CARI ARSIP BERITA : |
