Sukarak, Potret Warga Miskin di PPU | |||||||||||
Sukarak hanya bisa terbaring di atas ranjang kayu dekat dapur. Matanya terus memandangi langit-langit rumah yang juga mulai bocor, dengan nafas yang terengah-engah. Sementara sarung yang sudah lusuh dipakai untuk membukus sebagian badanya yang kurus. Ia sesekali batuk. Sudah sebulan ini Sukarak, 60, hanya bisa terbaring di rumahnya di rukun tetangga (RT) 21 Tunan, Kelurahan Petung karena sakit. Sejak itu, ia tidak bisa lagi mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara anaknya Aris juga tidak bisa berbuat banyak karena sehari-hari sebagai pembuat atap nipah, tidak mampu membawa ayahnya berobat ke puskesmas apalagi ke rumah sakit. Sejak sakit bapak tujuh anak ini hanya sekali diperiksa bidan desa. Biaya untuk periksa pun terpaksa dibayar patungan oleh anak-anaknya. "Kami kumpulkan uang dari keluarga, setelah cukup baru panggil bidan. Katanya bapak nggak punya penyakit," tutur Aris dengan lirih. Aris mengaku tidak bisa membawa bapaknya untuk periksa di puskesmas karena tidak memiliki biaya. Profesinya sebagai pembuat atap nipah tidak cukup dipakai untuk biaya berobat. "Jangankan berobat, buat makan saja tidak cukup. Karena satu ikat atap nipah (10 atap-red) hanya dihargai Rp 10.000, itu pun terkadang tidak laku dalam setengah bulan. Sementara kami hanya mengandalkan itu," ujar Aris dengan mata berkaca-kaca. Tak lama kemudian, Plt Kabid Pemberantasan Penyakit Menular dan Lingkungan Masyarakat Dinas Kesehatan (Diskes) dr Andi Ariani yang tiba di rumah Sukarak langsung melakukan pemeriksaan. "Sudah berapa lama bapak sakit, kok nggak dibawa ke puskesmas. Kayaknya kalau bukan tipes mungkin malaria. Saya minta bapak segera dirujuk ke puskesmas," ujar Ariani. Namun anak Sukarak, Fatma menolak bila bapaknya akan dibawa berobat ke puskesmas maupun rumah sakit. "Bu, kami ini tidak punya uang. Kalau bapak berobat nanti yang bayar siapa. Makan saja kami susah apalagi berobat," ujar Fatma sembari mengusap air matanya. "Nanti biaya ditanggung, tinggal minta keterangan tidak mampu kepada RT ya," jelasnya. Fatma dan Aris hanya bisa terdiam. Kemudian Ariani memberikan batas waktu untuk berpikir hingga, Rabu (26/3) pagi. Karena bila terlambat diobati akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebelum meninggalkan rumah Sukarak, Ketua Komisi II Kamaluddin Sahar melalui Andi Ariani memberikan sumbangan. Sementara itu, pimpinan Puskesmas Petung H Giman langsung menghubungi Tribun, untuk menanyakan alamat Sukarak, karena akan dirawat di puskesmas. "Sekarang Pak Sukarak sudah kami rawat di Puskesmas Petung," kata Giman yang langsung menjemput Sukarak setelah menerima informasi dari Tribun adanya warga miskin yang sudah sebulan terbaring sakit karena tidak mampu membayar biaya pengobatan.(TribunKaltim,26032008) Dikirim oleh : (administrator) | |||||||||||
BERITA LAINNYA :
| CARI ARSIP BERITA : |
