Tarian Paser Dipuji Warga Ibu Kota | |||||||||||
Gebyar Wisata Nusantara 2009 di Jakarta Conventio Center, 4-7 Juni, dimeriahkan tari tradisional dari kabupaten/kota se-Indonesia. Momentum ini tidak lain untuk memperkenalkan tarian daerah, termasuk dari Paser yang diwakili kelompok tari Binaan Dinas Pariwisa Budaya Kabupaten Paser. Dari ratusan daerah dalam penampilan tari daerah yang disaksikan ribuan pengunjung, tim Paser diwakili Sanggar Seni Tari Pea Burok dengan sejumlah personel grup musik cukup memukau pengunjung. Kelompok tari Paser langsung dikomandoi Kabid Kebudayaan Disparbudpora Paser Yunus Abidin dan Ketua Sanggar Seni Tari Pea Burok Luh Titis Saptowori serta koreografi Rosidah Agustina. Tim tari Paser tampil ketiga setelah Aceh. Tari yang ditampilkan saat itu merupakan prosesi tari pengobatan atau dalam bahasa Paser Tuyo Dirong yang merupakan salah satu tarian pengobatan yang dilakukan oleh penduduk pedalaman Paser ketika menggelar upacara pengobatan massal, dan untuk mendukung tarian ini, sebanyak 6 gadis belia yang masih berstatus pelajar dan didukung sejumlah pengiring, tampil maksimal. Dari sejumlah penampilan tari-tarian dari berbagai daerah pada hari pertama, hanya penampilan Paser yang berbeda, di mana dalam tarian Tuyo Dirong tersebut lebih menggambar unsur budaya. Di mana selain 6 penari, juga ada dua mulung (sebutan dukun bagi warga Paser) dengan melantukan mantra-mantra, tak heran saat itu seluruh penonton tampak tegang, apalagi sang pemulung melakukan pembakaran menyan yang tujuannya mengusir roh. "Wah penampilan Paser Kalimantan Timur sangat luar biasa, muda-mudahan saat pengusiran roh tadi, roh-roh yang ada di Jakarta Conventio Center ini juga diusir," kata dua pemandu acara memecah kesunyian penonton, saat tarian Tuyo Dirong berakhir. Sejumlah penonton saat ditemui mengaku penampilan tari Tuyo Dirong dari Kabupaten Paser memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, tarian tersebut mengambarkan budaya suku yang memang saat ini selalu menjadi perhatian penonton jika ada tarian daerah yang dipadu antara unsur seni dan budaya masyarakat setempat. "Yang jelas tari ini berbeda dengan dua tarian yang tampil pertama, yakni dari Jawa dan Aceh. Tari yang mempunyai unsur speritual seperti inilah yang disukai warga Jakarta, karena upacara-upacara budaya seperti yang digambarkan dalam tarian tadi memang diingin ketahui warga Jakarta," tandas Ifan, salah satu fotografer Jakarta yang terlibat dalam Gebyar Wisata Nusantara tersebut.(KaltimPost,08062009) Dikirim oleh : (administrator) | |||||||||||
BERITA LAINNYA :
| CARI ARSIP BERITA : |
